Di Bawah Teduh Pohon Kurma, Madinah

0


Di Bawah Teduh Pohon Kurma, Madinah

Madinah, 21 Juli 2023

Pagi itu, langit Madinah tampak begitu cerah.

Setelah beberapa hari menikmati suasana kota yang penuh ketenangan ini, pagi itu saya bersama rombongan jamaah berkesempatan mengunjungi salah satu perkebunan kurma.

Begitu memasuki area perkebunan, suasananya langsung terasa berbeda.

Barisan pohon kurma berdiri tegak dan rapi.

Batangnya tinggi menjulang, sementara daun-daunnya membentuk kanopi alami yang memberikan teduh dari hangatnya matahari Madinah.

Saya berjalan perlahan di antara pohon-pohon itu.

Sesekali berhenti.

Melihat ke atas.

Memandangi buah-buah kurma yang bergelantungan.

Sederhana, tetapi terasa begitu istimewa.

Mungkin karena selama ini kurma lebih sering saya lihat dalam kemasan di toko atau tersaji di meja makan.

Pagi itu saya melihatnya langsung dari tempat ia tumbuh.


Di Balik Manisnya Kurma

Tidak jauh dari perkebunan, terdapat beberapa lapak yang menjual berbagai macam kurma.

Suasananya cukup ramai.

Para jamaah dan pengunjung sibuk melihat-lihat pilihan yang tersedia.

Tawar-menawar pun terdengar di antara penjual dan pembeli.

Saya ikut mendekat.

Begitu sampai, pemilik toko langsung menyambut kami dengan ramah.

Ia mulai memperkenalkan berbagai jenis kurma yang tersedia.

Ada yang besar dan berwarna kecokelatan.

Ada pula yang lebih kecil dengan warna kuning keemasan.

Bentuknya berbeda.

Warnanya berbeda.

Dan ternyata, rasanya pun berbeda.

Saya pun mulai mencicipi satu per satu.

Sulit menolak ketika penjual dengan begitu ramah mempersilakan kami mencoba.

Satu kurma.

Lalu mencoba jenis lainnya.

Ada yang lembut.

Ada yang lebih kenyal.

Ada yang manisnya terasa kuat.

Ada pula yang rasanya lebih ringan.

Saya akhirnya memilih beberapa jenis untuk dibawa pulang.


Sebuah Kesederhanaan di Madinah

Di tengah perjalanan umrah, mungkin ini hanya sebuah kunjungan sederhana.

Tidak ada yang luar biasa.

Hanya berjalan di antara pohon kurma, melihat hasil perkebunan, mencicipi buahnya, kemudian memilih beberapa untuk dibawa pulang.

Tetapi justru hal-hal sederhana seperti inilah yang sering menjadi kenangan.

Ada ketenangan ketika berjalan di bawah pohon kurma.

Ada keramahan dari orang yang menyambut.

Ada percakapan singkat dengan sesama jamaah.

Ada rasa syukur ketika bisa menikmati sesuatu yang tumbuh dari tanah yang jauh dari rumah.

Dan ada perasaan bahagia yang sulit dijelaskan ketika kita bisa melihat secara langsung sesuatu yang selama ini hanya kita kenal dari cerita.

Saya berdiri sejenak di antara pohon-pohon kurma itu.

Memandang buah yang bergelantungan.

Lalu terlintas sebuah pikiran sederhana:

Sesuatu yang manis ternyata membutuhkan proses yang panjang untuk sampai ke tangan kita.

Pohon harus tumbuh.

Harus dirawat.

Harus menunggu musim.

Harus melewati panasnya Madinah.

Barulah kemudian menghasilkan buah.

Mungkin begitu juga dengan kehidupan.

Tidak semua hal baik datang dengan cepat.

Ada proses yang harus dijalani.

Ada kesabaran yang harus dipelihara.

Dan ada waktu yang harus kita tunggu.


Pagi itu, saya pulang bukan hanya membawa beberapa bungkus kurma.

Saya membawa sebuah kenangan kecil dari Madinah.

Tentang kebun yang teduh.

Tentang keramahan seorang penjual.

Tentang manisnya kurma.

Dan tentang sebuah pengingat bahwa hal-hal baik dalam hidup sering kali lahir dari proses panjang yang tidak selalu terlihat.

Di kota yang penuh ketenangan itu, saya kembali belajar untuk menikmati hal-hal sederhana.

Berjalan lebih pelan.

Melihat lebih dekat.

Dan bersyukur lebih banyak.

Post a Comment

0Comments

Post a Comment (0)